Sastra merupakan seni yang menggunakan bahasa sebagai mediumnya. Jika pelukis menggunakan kuas dan cat, maka sastrawan menggunakan kata dan imajinasi. Puisi adalah bentuk sastra yang paling padat. Ia tidak mengandalkan panjang kalimat, melainkan kekuatan diksi, rima, irama, dan metafora. Puisi memotret rasa dan suasana lebih dari sekadar bercerita.
Bagi saya, menulis puisi bukan sekadar merangkai kata-kata indah. Ia adalah sebuah kendaraan imajinasi yang tak disangka mampu membawa raga ini melangkah jauh, menyeberangi lautan, hingga menjejakkan kaki di tanah Jambi.
Perjalanan menuju festival puisi ini bukanlah sebuah kebetulan, juga bukan hal yang mudah. Tiket utama untuk bisa berdiri di sana adalah sebuah tantangan besar: saya harus mampu melahirkan karya yang identik dengan daerah asal saya, tanah Betawi. Puisinya-pun punya warna yang berbeda, bernuansa “Puisi Etnik Nusantara”.

Hari-hari sebelum keberangkatan diisi dengan pergulatan batin. Saya harus menggali kembali akar budaya, merasakan denyut nadi tanah kelahiran, dan menerjemahkannya ke dalam bait-bait puisi. Ada rasa tanggung jawab besar untuk tidak hanya sekadar menulis, tetapi “membawa” identitas daerah saya agar terbaca oleh dunia luar.
Usaha keras itu terbayar lunas. Puisi itu lahir, bernapas, dan membawa saya terbang ke tanah Jambi.
Sesampainya di tempat yang baru pertama kali saya singgahi, sahabat di Jambi menyambut hangat kehadiran saya. Sungguh membuat hati ini bergetar. Terima kasih, jiwa ini dihargai.
Bahagia ini terasa tidak bisa dilukiskan dengan kata-kata. Sahabat, kita baru pertama bertemu, namun ‘puisi’ merekatkan kuatnya persahabatan kita.
Kota Jambi memang pantas dijelajahi. Sebelum kegiatan berlangsung, saya dan beberapa teman mendatangi tempat-tempat terdekat.
Menebar Puisi di Candi
Hari yang ditunggu tiba. Kami menuju Candi Jambi. Ini salah satu momen yang paling membanggakan, yaitu ketika saya berkesempatan tampil satu area dengan para penyair yang sudah dikenal yang selama ini hanya saya kagumi dari jauh. Berdiri sejajar dengan mereka memberikan validasi tersendiri bagi perjalanan kepenulisan saya. Rasa lelah terbayar oleh atmosfer kreativitas yang luar biasa.

Berlatar belakang Candi Gumpung, puisi karya kami kibarkan. Semua menyaksikan dengan senyum dan saya menikmatinya.
Panggung Kehormatan dan Persahabatan
Kebahagiaan itu ternyata tidak berhenti di panggung utama. Ada kehangatan lain yang terjalin dalam kolaborasi. Saya ingat betul momen di Gedung Kediaman Bupati Jambi. Di sana, saya tidak tampil sendiri, melainkan berkolaborasi dengan beberapa
sahabat dari Sumatera. Kami menampilkan karya yang kami buat bersama dalam 1 hari. Sebuah paduan rasa dan diksi yang menyatukan banyak kepala menjadi satu pertunjukan yang hidup. Saya bisa tampil bersama para sahabat dari Sumatera.
Melintasi Batas Negara dalam Satu Meja
Pengalaman ini semakin paripurna dengan apresiasi yang kami terima dari para pemimpin daerah. Kami dijamu makan bersama dan hadir di Gedung Kediaman Gubernur Jambi. Di tengah kemegahan gedung tersebut, hal yang paling mahal harganya bukanlah hidangan yang tersaji, melainkan siapa yang duduk di sekeliling meja itu.


Saya dikelilingi oleh sahabat-sahabat penyair dari berbagai pulau di Indonesia. Tak hanya itu, persaudaraan kami meluas melintasi batas negara. Hadir pula sahabat-sahabat penyair dari Malaysia, Thailand dan Brunei Darussalam.
“Di Jambi, bahasa kami satu: Puisi. Tidak ada sekat antar pulau, tidak ada dinding antar negara. Yang ada hanyalah kebahagiaan murni bisa berkarya dan merayakan sastra bersama sahabat-sahabat sejiwa.”

Perjalanan ke Jambi mengajarkan saya bahwa sebuah puisi yang ditulis dengan kesungguhan hati di sudut kamar, ternyata mampu membuka pintu-pintu gedung pemerintahan, mempertemukan sahabat lintas negara, dan menciptakan kenangan yang abadi. Diujung Tahun 2025, kenangan bersama para sastrawan terbalut rindu untuk bisa bertemu lagi.

Tinggalkan Komentar